Maxians, di era sosial media seperti sekarang ini, viral sering dianggap sebagai tiket emas menuju kesuksesan. Banyak yang bermimpi produknya masuk FYP, dibicarakan di banyak platform atau muncul di setiap timeline. Rasanya seperti puncak pencapaian ketika sebuah konten mendapatkan jutaan views dan ribuan komen. Namun ada satu realitas yang sering kita lupakan, dimana viral tidak selalu berarti bisnisnya sehat. Bahkan dalam beberapa kasus, brand yang sangat viral justru tidak bertahan lama. Mereka sempat menjadi pusat perhatian internet, tapi beberapa bulan atau tahun kemudian hilang begitu saja.
Lalu kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Karena dalam dunia bisnis, perhatian memang penting. Tapi Maxians, perhatian saja tidak cukup.
Viral Itu Mendatangkan Perhatian, Bukan Selalu Pembelian
Ketika sebuah brand viral, yang sebenarnya terjadi adalah ledakan perhatian. Orang melihat, membicarakan dan mungkin juga ikut membagikan kontennya.
Namun tidak semua orang yang menonton akan membeli. Banyak orang yang menonton konten viral hanya karena penasaran, ingin ikut tren atau sekedar hiburan. Mereka mungkin tertarik dengan cerita brand tersebut namun belum tentu merasa perlu memiliki produknya. Inilah sebabnya mengapa sebuah brand bisa memiliki jutaan views tapi penjualannya tidak sebanding.
Dalam bahasa sederhananya, viral membuat orang melihat brand mu, tapi belum tentu membuat mereka membeli.
Hype Bisa Datang Cepat, Tapi Value Harus Dibuktikan
Fenomena ini pernah terjadi pada startup teknologi bernama Juicero. Pada tahun 2016, Juicero viral karena menjual mesin pemeras jus dengan teknologi yang sangat canggih, yakni menghubungkannya dengan jaringan WI-FI. Bahkan mesin ini juga didukung oleh investor besar salah satunya Silicon Valley. Banyak media yang menyebutnya sebagai masa depan industri minuman sehat.
Dikutip dari salah satu laman internasional, The Verge menjelaskan awal kehancuran Juicero ketika seorang jurnalis mencoba memeras paket jus Juicero hanya dengan tangan, tanpa mesin. Dan hasilnya, sama saja. Berita tersebut langsung viral. Dalam hitungan hari, orang mulai mempertanyakan, kalau bisa diperas manual untuk apa beli mesin mahal?
Seketika reputasi brand runtuh, tidak lama setelah itu, Juicero resmi menutup bisnisnya.
Viral Launch Tidak Menjamin Orang Mau Pakai
Kasus lainnya datang dari platform streaming bernama Quibi. Quibi sendiri diluncurkan dengan hype yang luar biasa. Startup ini berhasil mengumpulkan hampir $2 miliar investasi, bekerja sama dengan banyak selebriti hollywood dan sempat digadang-gadang akan menjadi masa depan konten video pendek premium.
Media membicarakannya dimana-mana. Launching nya viral, tapi ada satu masalah, dimana orang era tidak merasa butuh.
Quibi meminta pengguna membayar untuk menonton video pendek di smartphone. Padahal saat itu sudah ada TikTok dan Youtube yang gratis dan jauh lebih menarik. Hasilnya? Hanya 6 bulan setelah diluncurkan, Quibi resmi ditutup.
Dari berbagai cerita tersebut, kita bisa melihat pola yang sama. Viral memang bisa membawa brand ke spotlight dengan sangat cepat. Tapi spotlight hanya berlangsung sebentar jika tidak ada pondasi bisnis yang kuat di belakangnya. Brand yang benar benar bisa bertahan biasanya memiliki beberapa hal yang lebih penting daripada sekedar viralitas, yaitu ;
- Produk yang benar-benar memberikan nilai
- Model bisnis yang masuk akal
- Pengalaman pelanggan yang baik
- Strategi jangka panjang yang jelas
Karena pada akhirnya, internet memang bisa membuat brand terkenal dalam semalam. Tapi membangun bisnis yang bertahan bertahun-tahun adalah cerita yang sama sekali berbeda. Viral bisa membuat orang mengenal brand kamu. Tapi yang membuat mereka tetap tinggal adalah value yang benar-benar mereka rasakan